Jalur Distribusi Ritel Terhambat Banjir

Banjir yang tengah melanda kawasan Kabupaten Bandung mengakibatkan terhentinya pasokan sejumlah barang dagangan ke berbagai toko ritel. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar mengakui tersendatnya jalur distribusi tersebut, meski demikian sejumlah minimarket
telah mulai beroperasi kembali.
Akibat banjir tersebut tidak sedikit pelaku usaha ritel yang tokonya terendam dan mengalami kerugian, meski nilai kerugian yang dialami itu belum dapat diprediksi angka pastinya.
Nilai kerugian itu juga harus disesuaikan dengan klaster minimarket. Karena, minimarket yang tersebar di Kecamatan Bojongsoang, Majalaya, Baleendah, dan Dayeuhkolot itu klasternya beragam.

Banyak toko ritel di Kabupaten Bandung yang terendam banjir di antaranya sejumlah toko Alfamart, di Baleendah, Banjaran dan Majalaya. Selain pasokan barang tersendat, akibat akses jalan tertutup karena banjir, banyak pula pekerja yang terpaksa tidak masuk kerja, dan dampaknya juga menghambat operasional.

Pusat Belanja Gencar Kampanyekan Kantong Belanja Ramah Lingkungan

Beberapa pusat perbelanjaan atau Mal di Kota Malang, Jawa Timur gencar mengkampanyekan kantong belanja ramah lingkungan, hal Ini dilakukan untuk menindak lanjuti anjuran pemerintah untuk mengurangi penggunaan kantong plastik di gerai-gerai ritel dengan menerapkan kantong plastik berbayar. Di Malang Town Square (Matos) yang cukup banyak supermarketnya saat ini tengah memberikan edukasi kepada masyarakat agar menggunakan kantong belanja yang ramah lingkungan. Program edukasi tentang pengurangan kantong
plastik yang dilakukan oleh Matos ini bekerja sama dengan komunitas Earth Hour (EH) Malang dan anggota pariwisata Malang Raya. Matos membagikan 1.000 totebag gratis kepada seluruh pengunjung mal. Dengan totebag, masyarakat bisa memanfaatkan kantong ini berkali-kali. Hemat
dan ramah lingkungan.

Selain Matos, pusat perbelanjaan lainnya yakni Cyber Mall juga tak kalah dengan Matos dalam melakukan sosialisasi kepada seluruh tenant yang ada di mal untuk membudidayakan pemakaian totebag sebagai pengganti kantong plastik. Hal itu dilakukan untuk mengubah mindset masyarakat untuk
mengurangi penggunaan kantong plastik. Untuk mengganti kantong plastik tidak harus selalu menggunakan totebag, tapi bisa juga diganti dengan kantong yang berbahan kertas.

Pertumbuhan Bisnis Ritel Di Indonesia

Halo sobat ritel, pada kesempatan kali ini kita akan membahas secara singkat tentang pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia, dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007 hingga tahun 2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan. Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket.

Ternyata menjamurnya belanja online di internet tidak terlalu mempengaruhi bisnis ritel, ini terbukti dengan pertumbuhan gerai-gerai ritel yang justru mengalami peningkatan, ditambah lagi dengan mulai gencarnya para peritel asing yang turut meramaikan persaingan bisnis ritel di Indonesia.
Demikianlah postingan kita kali ini tentang pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia yang dikutip dari situs marketing.

4 Mall Baru Di Jakarta

Pada tahun 2016 ini ada 4 Mall baru yang akan dibuka di Kota Jakarta, keempat mall itu adalah Pantai Indah Kapuk Mall dengan luas 30.000 meter persegi yang dikembangkan oleh Agung Sedayu Group, lalu SOHO Mall @ Pancoran dengan luas 8.000 meter persegi milik Agung Podomoro Group. Kemudian, Neo SOHO Mall @ Podomoro City dengan luas 40.000 meter persegi yang juga dimiliki oleh Agung Podomoro dan Mall at Basura City dengan luas 15.000 meter persegi yang digarap oleh Synthesis Karya Prima.

Sebenarnya mulai tahun 2012, Pemerintah Daerah DKI Jakarta mulai menerapkan moratorium pembangunan mall yang diperkuat dengan Instruksi Gubernur (Ingub) tentang Moratorium Pemberian Izin Pembangunan Pusat Perbelanjaan, Pertokoan/Mall Dengan Luas Lahan Lebih Dari 5.000 Meter Persegi, namun menurut Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, keempat Mall baru tersebut telah mendapatkan izin sebelum moratorium tersebut diberlakukan.

Secara umum, akibat moratorium, sub-sektor pusat belanja menunjukkan stabilitas kinerja baik untuk segmen tingkat hunian, menurut hasil riset Colliers International Indonesia, hingga kuartal IV-2015, tingkat hunian rata-rata pusat belanja di ibu kota Indonesia itu masih bertengger di angka 86,8 persen. Tingkat hunian tertinggi dicatat pusat belanja kelas atas dengan 90,8 persen, dan pusat belanja kelas menengah sekitar 86,3 persen.
Sementara untuk harga sewa, mengalami kenaikan 5,5 persen
secara tahunan menjadi rerata Rp 535.285 per meter persegi per
bulan. Berdasarkan area, pusat belanja di central business district (CBD) Jakarta mencatat harga sewa rata-rata Rp 829.652 per meter persegi per bulannya.
Seperti kita ketahui sebelumnya salah satu tujuan dibuatnya moratorium tersebut, untuk mengurangi kemacetan yang disebabkan bertumpuknya warga yang mengunjungi pusat-ousat perbelanjaan di Jakarta.